SHINJUKU PRINCE HOTEL: Nyamannya Tidur di Jantung Kota Tokyo

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Kamarnya besar, pemandangannya indah, fasilitasnya lengkap, lokasinya strategis. Mau apalagi? Oh ya, ada Godzila di luar jendela! Kali ini kami berbagi cerita menginap di salah satu hotel paling berkelas di kawasan Shinjuku, pusat kota Tokyo, Jepang.

Harusnya memilih hotel di Tokyo itu gampang, karena ada ribuan hotel yang tersebar di berbagai pelosok kota mega metropolitan ini. Pada kenyataannya ternyata tak semudah itu. Apalagi bagi pelancong yang baru pertama kali akan mengunjungi Jepang, yang perlu menginap di hotel berlokasi strategis, dekat dengan keramaian dan tujuan wisata, memiliki staf yang bisa berbahasa Inggris agar bisa menjadi tempat bertanya apapun tentang kota itu, hingga memiliki berbagai fasilitas penunjang hebat lainnya.

Makanya kami sangat happy ketika teman di Japan National Tourism Organization Jakarta merekomendasikan Shinjuku Prince Hotel sebagai tempat kami menginap saat berkunjung ke Tokyo beberapa waktu lalu. Karena hotel ini simply magnificent. Berdiri megah di tengah Kabuki-cho, Shinjuku, jantung kota Tokyo yang dikenal tak pernah berhenti berdenyut, hotel ini memiliki 571 kamar dengan fasilitas lengkap. Jika ingin bepergian, cukup berjalan kaki 5 menit ke stasiun Shinjuku, dimana kita bisa memilih mau naik kereta jalur utama JR lines, subway, atau private railways. Bahkan di lantai 2 hotel ini pun ada stasiun kereta, Seibu Shinjuku Station, yang menghubungkan langsung dengan berbagai tujuan.

Suasana di sekitar hotel, dekat stasiun Shinjuku, hanya 5 menit jalan kaki dari hotel

Berhubung kita menginap di tengah kota, berbagai tempat belanja, restoran, dan hiburan bertebaran di wilayah Shinjuku ini. Hanya dengan melangkahkan kaki keluar pintu hotel, kita akan disambut berbagai macam pilihan. Tak cuma itu, bagian bawah hotel ini (lantai basement hingga lantai 8) adalah sebuah pusat perbelanjaan yang cukup lengkap, mulai dari toko-toko branded hingga toko 100yen yang menyediakan berbagai barang dan sovenir berharga 100 yen saja. Menarik bukan?

 

FASILITAS LENGKAP

Kami tiba di hotel yang bangunannya didominasi warna cokelat ini hampir tengah malam, di akhir bulan April lalu. Petugas yang menyambut kami di main entrance mengarahkan kami turun satu lantai ke bawah, karena di situlah resepsionis berada. Thanks to kantor JNTO Jakarta yang sudah mengatur semuanya, kami langsung disambut oleh supervisor hotel, diberi kunci kamar, dan diantar ke kamar yang terletak di lantai 18. Dengan jenaka Ia berkata, “Hati-hati pas melihat keluar dari jendela ya. Ada kejutan.”

Lobby Lounge dengan disain yang sangat bernuansa Jepang

Karena penasaran, hal pertama yang kami lakukan begitu masuk kamar adalah membuka tirai jendela. Dan benar saja, kami terkejut. Ada Godzilla tampak berdiri gagah di gedung seberang hotel. Tentu saja hanya patung, namun ukurannya sangat besar dan diletakkan di atap sebuah gedung bioskop. Belakangan kami diberitahu bahwa patung Godzilla ini baru diresmikan dan menjadi ikon baru di kawasan Shinjuku.

Kamar yang kami tempati, luas dan mewah

Ternyata kami diberi kamar yang cukup besar, sebuah Twin Room tipe A berukuran 30,6 meter persegi. Sangat luas untuk ukuran kamar hotel di Jepang yang biasanya kecil-kecil dan sempit. Ini adalah kamar ukuran terbesar kedua di hotel ini (yang paling besar adalah Suite Room berukuran 61.2 meter persegi). Kamar ini dilengkapi dengan dua tempat tidur singel dengan ukuran cukup lebar, perangkat TV layar datar HD dengan berbagai channel TV lokal dan internasional, kamar mandi dengan bathtub dan amenities lengkap, juga ada air cleaner untuk menjaga udara dalam kamar tetap bersih sepanjang waktu. Selebihnya adalah perlengkapan standar hotel berbintang. Mulai dari kulkas kecil hingga jaringan internet tanpa kabel.

Kami memutuskan tidur tanpa menutup tirai jendela. Karena pemandangan yang disajikan di jendela kamar hotel ini benar-benar menakjubkan. Tokyo city lights terpampang indah. Jika kita menunduk melihat ke bawah akan tampak hilir mudik orang yang seakan tiada henti menyusuri jalan-jalan di seputar Shinjuku.

Pemandangan dari jendala kamar, lengkap dengan patung Godzila-nya

Ketika terbangun di pagi hari, kami melihat pemandangan yang sama mempesonanya. Kali ini jejeran gedung-gedung bertingkat menghias jendela ditingkahi matahari yang baru terbit mengintip di sela-sela. Di bawah sanapun masih saja banyak orang hilir mudik. Memang, kehidupan di kawasan ini tampak tak pernah berhenti. Kami pun bergegas turun ke bawah, tepatnya ke restoran Prince Viking yang terletak di basement 2. Jangan bayangkan basement yang gelap gulita, ya. Basement di sini keren sekali karena ada restoran bergaya buffet tempat kita menikmati sarapan, makan siang, hingga makan malam dengan sekitar 30 menu pilihan.

Sarapan yang disediakan tidak hanya Japanese Style Breakfast, tapi juga ada American Breakfast. Kita tinggal pilih, ambil sendiri. Kami memutuskan untuk mencoba semua menu. Sarapan dengan nasi Jepang yang pulen plus lauk ikan salmon bakar plus sop miso yang original terasa lezat dan mengenyangkan. Tapi berbagai salad, toast, omelet, hingga dessert buah juga kami lahap. Jika kita tidak menginap di hotel ini, kita masih bisa sarapan di Prince Viking ini, cukup dengan membayar 2100 yen (sekitar 230 ribu rupiah).

Buffet Board di Prince Viking. Sarapan, makan siang, hingga makan malam sepuasnya di sini

Sebelum keluar hotel untuk menjelajah berbagai atraksi wisata menarik di Tokyo, kami memenuhi janji untuk bertemu dengan manajemen Shinjuku Prince Hotel terlebih dahulu. Yang pertama kami kami temui adalah Mr. Hiroshi Moyata dan Ms. Nao Nakazawa, dari bagian perencanaan bisnis. Dua orang yang sangat ramah ini mengantarkan kami berkeliling hotel untuk melihat berbagai fasilitas lain yang dimiliki hotel ini, terutama beberapa restoran di lantai paling atas. Kami berjanji untuk mencobanya nanti malam.

Kami juga diantar melihat beberapa kamar tipe lainnya. Mulai dari Single Room yang berukuran 15.3 meter persegi, hingga Suite Room yang besarnya dua kali lipat kamar yang kami tempati. Terakhir, kami diajak melihat proses penerimaan tamu hingga mengunjungi bagian khusus yang melayani berbagai kebutuhan tamu hotel. Mereka menyebutnya Omotenashi Desk. Dalam bahasa Jepang, Omotenashi artinya keramahan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana ramahnya petugas yang berada di meja pelayanan ini. Saat itu kami dikenalkan dengan Ms. Kiyomi Asai yang dengan sigap menjelaskan berbagai hal dan menawarkan berbagai hal yang bisa kami lakukan di Jepang. Di akhir pertemuan kami bertemu dengan Mr. Masakazu Umeda, Assistant Sales Manager, yang mengutarakan harapannya ingin menerima lebih banyak tamu dari Indonesia di hotel Shinjuku Prince ini.

Kami lantas mengisi kegiatan hari itu dengan menyelusuri beberapa tempat wisata di kota Tokyo dan baru kembali ke hotel pada sore harinya. Berhubung jaraknya cukup dekat dari Shinjuku, kami berhasil menjelajah ke Shibuya, Harajuku, hingga Akihabara, sebelum akhrinya kembali ke Shinjuku. Namun sebelum masuk ke dalam hotel, kami berbelok dulu ke dalam shopping centre yang terletak di bawah hotel. Ada beberapa gerai makanan di lantai bawah, gerai toko baju merek terkenal di lantai berikutnya, dan di paling atas (lantai 8) ada gerai Can Do yang tersohor. Gerai ini mengisi seluruh lantai 8 dengan berbagai jenis barang. Mulai dari peralatan rumah tangga, kamar mandi, hingga camilan, sovenir dan oleh-oleh. Dengan modal 3000 yen (sekitar 350 ribu rupiah) kita sudah bisa memperoleh 30 barang. Puas berbelanja kita tinggal turun ke lantai 1 lalu lanjut ke connecting door yang terhubung langsung dengan lobby hotel. Sangat menyenangkan.

 

FUGA

Di saat perut sudah mulai merasakan lapar di malam hari, kaki yang letih ternyata sudah tak bisa diajak kompromi. Karena tak mungkin berjalan kaki ke luar hotel mencari makan, kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu restoran yang ada di hotel saja. Itu berarti saatnya untuk menjajal restoran yang telah direkomendasikan oleh Mr. Miyata sebelumnya.

Menyantap makan malam berkelas di FUGA Japanese Dinning & Bar

Kami naik ke lantai 25, tempat restoran FUGA –Japanese Dining & Bar—berada. Dan kami tak akan menyesal sedikitpun memilih makan malam di hotel saja hari itu. Karena FUGA benar-benar memberikan pengalaman komplit, makan enak dan pemandangan indah. Dimanapun kita duduk di restoran itu akan mendapatkan pemandangan indah ke arah luar jendela. Jika ingin ruangan khusus tertutup, disediakan ruangan untuk hingga 10 orang. Bahkan jika ingin berduaan saja menikmati makan malam romantis, disediakan juga couple seats.

Makanannya tentu saja berkualitas papan atas. Semua jenis makanan Jepang ternama bisa kita nikmati di sini. Di bagian tengah restoran tampak sebuah ruangan tembus pandang yang berisi wine cellar, dimana pengunjung bisa memilih sendiri wine yang diinginkan atau mempercayakannya pada pelayan yang sudah berpengalaman.

Ingin makan malam romantis berdua sambil menikmati lampu kota, disediakan couple seats di FUGA

Untuk makan dan minum di sini butuh biaya sekitar 6500 yen per orang, namun jika kita adalah tamu yang menginap di hotel hanya dikenakan biaya 5000 yen (sekitar 550 ribu rupiah). Kalau mau menikmati Bar Set (2 jenis minuman + special appetizer) tinggal tambah 2000 yen per orang. Tidak terlalu mahal untuk ukuran makan di restoran berkualitas tinggi dengan pengalaman makan yang sangat memorable.

Malam itu kami menghabiskan waktu di kamar hotel saja, menikmati nyamannya ruangan yang spacious, dengan tempat tidur empuk, dengan perut kenyang, dengan hati senang. Besok kami akan menyelusuri beberapa tempat wisata lainnya sebelum kembali ke Indonesia. Ini adalah malam terakhir kami tidur di Shinjuku Prince Hotel, ditemani Godzila besar dan mata menyala di luar jendela. Sungguh pengalaman yang menakjubkan. (*)

Foto-foto Dok. Shinjuku Prince Hotel

Share.

Leave A Reply