Setahun Dioperasikan, Pencapaian KA Bandara Soetta Mengecewakan?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

air-travel.id – Genap satu tahun sudah KA Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dioperasikan oleh PT Railink terhitung sejak 2 Januari 2018. Pengoperasian kereta khusus ini disediakan guna melengkapi pilihan moda transportasi umum dari dan menuju bandara. Sejak awal, kehadiran layanan kereta yang jalurnya dibangun selama tiga tahun ini diharapkan bisa menekan tingkat kemacetan di jalan sebesar 20-30 persen.

Sayangnya, hingga tahun 2019 ini masih banyak hal yang perlu diperbaiki terkait pengelolaan KA Bandara. Menurut Deddy Herlambang, peneliti Institut Studi Transportasi (Instran), tingkat keterisian penumpang atau okupansi KA Bandara ternyata masih jauh dari harapan.

“Setelah satu tahun kita lihat fungsi KA bandara jauh dari harapan kami sebagai praktisi angkutan umum,” kata Deddy saat memberikan kata pengantar dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Revieu 1 Tahun Kereta Api Bandara, Akankah Mampu Menguraikan Kepadatan Lalu Lintas Jalan?’ di Hotel Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat, (9/1). 

Berdasarkan studi Instran, Deddy menguraikan, keterisian penumpang atau okupansi kereta bandara masih 26 persen. Idealnya, kata dia, harusnya tingkat keterisian sebesar 60 persen.

Saat ini, PT Railink sebagai operator telah melakukan 70 slot perjalanan kereta dari 82 slot yang tersedia. Disebutkan, apabila satu rangkaian sarana KA SF6 berkapasitas 272 orang, maka total penumpang per hari harus mampu memuat 19.040 penumpang. 

Tapi berdasarkan data PT Railink, hingga November okupansi KA Bandara pada hari biasa hanya mencapai 2.700 sampai 3.000 penumpang per hari. Sementara pada hari Jum’at bisa mencapai 4.700 hingga 5.000 penumpang dan Sabtu-Minggu, hanya 2.000 hingga 2.500 penumpang. 

Kurang maksimalnya pencapaian yang diraih KA Bandara tidak dibantah oleh Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub, Zulmafendi. Menurut Zulmafendi, salah satu kendala sepinya penumpang KA Bandara adalah tarif tiketnya yang dianggap mahal. Kendala selanjutnya adalah fasilitas atau akses menuju KA Bandara yang masih belum optimal. 

Soal tarif, Zulmafendi menyatakan pemerintah belum bersikap akan memberikan subsidi kepada operator. Ia berharap PT Railink mampu mengupayakannya secara internal agar tarif tersebut bisa diturunkan. “Karena kita lihat, tarif sangat penting untuk diperhatikan supaya animo masyarakat semakin meningkat,” tuturnya. 

Meski demikian, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi yang turut hadir dalam diskusi tersebut tidak merasa kecewa atas pencapaian KA Bandara. Menurut Budi,  PT Railink sebagai operator sudah bekerja dengan baik.

“KA Bandara telah berlangsung dengan baik, cuma okupansinya memang ada masalah. Itu pun bukan kesalahan dari PT Railink, tapi karena memang ada kecepatan yang tidak sesuai dengan rencana,” ujar Menhub.

Budi optimistis, ke depan nanti, tingkat okupansi atau keterisian KA Bandara Soetta bakal lebih tinggi jika sudah terintegrasi dengan LRT Jabodebek dan MRT. 

Budi menjelaskan, nantinya Stasiun Dukuh Atas akan menjadi titik integrasi antara LRT, MRT, Trans Jakarta, dan kereta Bandara Soetta. “Sehingga masyarakat luas bisa memanfaatkan moda transportasi itu untuk mengakses KA Bandara,” ungkapnya. 

Saat ini, kata Budi, yang sedikit menjadi hambatan adalah adanya proyek Double Double Track (DDT) yang belum selesai di Manggarai, sehingga mengganggu operasi KA Bandara yang menuju Bekasi.

“Nah kita harapkan proyek tersebut dipercepat dan selesai di tahun 2020. Sebab, bila Stasiun Manggarai selesai nanti, manfaatnya bukan hanya untuk layanan KRL saja, tapi juga untuk KA Bandara,” papar Budi. (bdn) 

Share.

Leave A Reply