Giethoorn, Desa Kecil nan Hening bak Negeri Dongeng

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Air-travel.id — Semasa kecil, Anda tentu pernah mendengarkan dongeng tentang sebuah tempat atau negeri yang indah atau sangat berbeda dengan negeri-negeri lainnya, misalnya sebuah negeri yang langitnya biru polos, tanahnya berupa hamparan rumput hijau, bangunan rumah-rumahnya unik dan megah, serta lingkungannya dipenuhi bunga yang berwarna-warni.

Sebenarnya negeri yang disebut-sebut dalam dongeng tadi bisa Anda temui di beberapa tempat di bumi ini. Salah satunya adalah di Giethoorn, sebuah desa kecil di Kotamadya Steenwijkerlaan, Provinsi Overijssel, Belanda, yang jumlah populasinya kurang dari 3.000 orang.

Salah satu sisi Giethoorn di musim dingin. (Photo by Michel van der Vegt from Pixabay)

Desa kecil nan hening bak negeri dongeng ini berjarak kira-kira 75 mil dari Bandara Internasional Schiphol di Kota Amsterdam, atau bisa dicapai sekitar 2,5 jam dengan menggunakan transportasi umum kereta atupun bus dari Amsterdam.

Sangat berbeda dengan desa-desa kebanyakan, Giethoorn merupakan desa bebas polusi karena tidak menyediakan jalan raya untuk lalu-lalangnya kendaraan bermotor. Yang ada di desa ini hanya kanal-kanal untuk lalu-lintas perahu. Kanal-kanal besar dan kecil itu sengaja dibuat dan digunakan sebagai akses transportasi utama yang menghubungkan berbagai daerah.

Perahu jadi alat transportasi utama di Giethoorn. (Photo by Michel van der Vegt from Pixabay)

Turis-turis yang datang pun harus memarkir kendaraannya di luar desa. Kalaupun diperbolehkan melintas, kendaraan roda empat hanya bisa masuk sampai di area tertentu saja. Selanjutnya para pemilik kendaraan tadi bisa menyewa perahu-perahu kayu sederhana yang didayung atau bisa juga menumpang boat bertenaga listrik untuk menyusuri desa.

 

Rumah-Rumah Tua Khas Eropa

Di kanan-kiri kanal, para turis langsung dimanjakan oleh deretan rumah-rumah tua tradisional khas masyarakat pertanian Eropa di abad ke-18 yang atapnya berbahan jerami tersusun meruncing ke atas serta dindingnya banyak diselipi jendela besar-besar.

Jalan darat hanya muat untuk pejalan kaki atau pesepeda. (Photo by PublicDomainPictures from Pixabay)

Ditambah dengan barisan pohon-pohon rindang, tanaman-tanaman hias di sekitar pekarangan rumah, serta jembatan-jembatan kayu yang membentang di atas sungai, dijamin Anda tak akan berhenti berdecak kagum saat “terjebak” di tempat ini.

Tapi, meskipun jalan raya menjadi “barang terlarang”, bukan berarti Giethoorn benar-benar tidak memiliki akses darat. Desa unik ini tetap memiliki jalan darat yang tidak lebar sehingga hanya muat untuk para pejalan kaki atau orang-orang yang bersepeda. Bahkan untuk menghubungkan jalan-jalan kecil, tersedia 180 jembatan unik dengan bentuk melengkung.

Ihwal boat bertenaga listrik, sesuai peraturan setempat, perahu-perahu yang beroperasi di Giethoorn memang harus menggunakan tenaga listrik agar tidak menimbulkan polusi udara dan tidak bising. Bahkan saking tenangnya, suara paling berisik yang terdengar di desa ini adalah suara bebek dan kicauan burung.

Dengan suasana dan atmosfer seperti itu, tidak mengherankan bila Giethoorn diberi julukan “Venesia dari Belanda” dan menjadi daya tarik wisata yang populer.

 

Tidak Boleh Ada Hotel

Di Giethoorn, para turis tidak akan menemukan hotel karena keberadaan bangunan tinggi itu dianggap tidak selaras dengan nafas dan filosofi sebuah desa yang bersahaja. Maklum, kebeadaan hotel-hotel besar ditakutkan bakal melenyapkan nilai-nilai tradisionalisme dan originalitas desa yang dipegang teguh selama ratusan tahun.

Giethoorn jadi lebih menarik di musim dingin. (Photo by Michel van der Vegt from Pixabay)

Meski demikian, bukan berarti para turis tidak bisa menginap di desa ini. Tempat penginapan yang populer dan biasa digunakan adalah guest house yang menawarkan konsep bed and breakfast.

Biasanya para turis datang ke Giethoorn pada musim panas, saat bunga-bunga bermekaran dan burung-burung banyak yang beremigrasi untuk menetap di desa ini. Meski demikian, banyak pula turis yang memilih musim dingin sebagai waktu terbaik untuk bertamasya ke desa ini, terutama para pecadu ski atau skaters.

Fenomena unik di Giethoorn saat musim dingin. (Photo by Michel van der Vegt from Pixabay)

Para skater dari berbagai belahan dunia akan berduyun-duyun datang ke tempat ini untuk menikmati sensasi berpetualang mengelilingi kanal di atas permukaan sungai-sungai yang airnya telah membeku.

 

Berawal dari Banjir Besar

Menurut sejarahnya, Desa Giethoorn pertama kali dihuni pada tahun 1230 oleh sekelompok orang yang terusir dari wilayah Mediterania. Saat mereka tiba di Giethoorn, desa yang dikelilingi oleh air ini dipenuhi tanduk kambing yang berserakan akibat banjir besar pada tahun 1170.

Lalu orang-orang asal Mediterania tadi menamai desa ini dengan sebutan Geytenhorn yang berarti “tanduk kambing” (geyten = kambing dan hoorn = tanduk). Lalu, seiring dengan adanya perubahan dialeg selama bertahun-tahun, desa ini pun lama-kelamaan dikenal dengan sebutan Giethoorn.

Ciri khas rumah-rumah di Giethoorn. (Photo from Pixabay)

Konon, Desa Giethoorn baru terkenal setelah munculnya film komedi berjudul “De Fanfare” di Belanda. Karena desa yang kelihatan unik ini tampil sebagai latar cerita, akhirnya film komedi yang dibuat oleh Bert Haanstra dan Jan Blokker itu jadi terkenal dan membawa keuntungan besar di tahun 1958. (bdn)

Share.

Leave A Reply