Mitos Si Tiga Warna Danau Kelimutu

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Danau Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Lokasi tersebut terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 meter dari Kota Maumere.

Sementara Puncak Kelimutu terletak di ketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut. Puncak tertinggi di kawasan Kelimutu adalah Gunung Kelibara dengan ketinggian 1.731 meter.

Taman Nasional Kelimutu yang merupakan kawasan konservasi terkecil dari enam taman nasional lainnya memiliki luas sekitar 5.356,50 ha.

Selain keindahan kawahnya, flora dan fauna di Taman Nasional Kelimutu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. Sebab, di kawasan ini terdapat 19 jenis hewan endemik dan hewan langka.

Kawasan Kelimutu dikelilingi oleh hutan dengan berbagai flora spesial. Pohon pinus, cemara, redwood, hingga edelweis juga tumbuh di wilayah Kelimutu.

Tanah di sekitar gunung merupakan tanah kering dengan pasir yang tidak stabil. Pengunjung hanya diperbolehkan berkeliling di sekitar Danau Kelimutu agar keselamatan pengunjung lebih terjaga.

 

Arti Kata ‘Kelimutu’

‘Kelimutu’ memiliki arti “gunung yang mendidih”. Masing-masing danau di Kelimutu memiliki nama lokal serta mitos masing-masing. Danau pertama ialah ‘Tiwu Nuwa Muri Koo Fai’, yang artnya “tempat jiwa muda-mudi yang telah meninggal”.

Lalu danau yang kedua, yang kerap berwarna merah, memiliki nama ‘Tiwu Ata Polo’, yakni “tempat jiwa yang sudah meninggal tapi semasa hidupnya kerap melakukan kejahatan”.

Sedangkan danau yang ketiga adalah ‘Tiwu Ata Mbupu’ atau “tempat berkumpulnya jiwa orang tua”. Ketiga danau tersebut memiliki kesamaan mitos yang serupa, yaitu tempat jiwa-jiwa yang sudah meninggal.

Apabila ditilik dari sudut pandang ilmiah, keindahan kawah-kawah di Kelimutu terbentuk akibat letusan Gunung Kelimutu pada tahun 1886.

Perubahan warna di Danau Kelimutu disebabkan oleh proses kimiawi dan geologis, seperti biota lumut, kandungan mineral, batu-batuan yang terdapat di dalam danau, serta cahaya matahari. Keunikan kawah-kawah tersebut menarik minat ilmuwan maupun ahli geologi dari berbagai negara untuk menelitinya.

 

Penerbangan Menuju Kelimutu

Untuk penerbangan dari Jakarta, sebagian besar rute penerbangan memerlukan transit dua kali. Pertama, transit di Surabaya atau Bali, kemudian di Kupang, Tambolaka, atau Labuan Bajo.

Lalu, untuk menuju Ende, penerbangan yang dapat dipilih ialah Kupang-Ende, Tambolaka-Ende, dan Labuan Bajo-Ende.

Di Ende, perjalanan menuju Desa Koanara dapat ditempuh dengan minibus, mobil, atau kendaraan charter-an. Jarak dari Ende menuju Desa Koanara sekitar 66 kilometer atau tiga jam perjalanan. Selain itu, moda umum semacam bus kayu (orang setempat menyebutnya ‘oto kol’) dapat menjadi alternatif kendaraan menuju Moni.

Rute perjalanan yang ditempuh berkelok-kelok. Meski demikian, pemandangan yang disuguhkan bakal memanjakan mata bagi siapa saja yang lewat.

Dari Moni, ojek hingga penyewaan mobil tersedia banyak untuk mengantar ke kawasan Kelimutu. Jarak tempuh dari Moni hingga Kelimutu berkisar 15 kilometer. Penginapan seperti homestay, bungalow, eco-lodge juga tersedia di Moni hingga di kaki gunung Kelimutu.

 

Menuju Pancak Kelimutu

Waktu terbaik untuk mengunjungi Kelimutu adalah pagi hari sebelum kabut menyelimuti kawasan ini. Biasanya, kabut akan menutupi kawah pada pukul 7 hingga 9 pagi.

Dari Moni, sebaiknya pengunjung berangkat pada pukul 3 dini hari untuk menyaksikan semburat mentari muncul perlahan. Sembari menunggu sang surya terbit, pengunjung dapat menyesap minuman hangat atau kudapan ringan yang dijual masyarakat lokal di sekitar Tugu Pandang. Jangan lupa membawa jaket, kaos kaki, senter, dan minuman sebagai bekal pendakian.

Dari tempat parkir, waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak kurang lebih 30 menit hingga satu jam. Jalan setapak dan ratusan anak tangga akan mempermudah pengunjung untuk mendaki.

Tanjakan menuju puncak dapat dikategorikan sebagai tanjakan santai. Setelah tiba di puncak, sebuah area bernama Tugu Pandang akan menyambut kehadiran pengunjung.

Jika ingin membeli kain khas Flores, alangkah baiknya membeli kain yang dijajakan oleh penduduk lokal di sekitar Kelimutu. Kain tenun tersebut dapat melindungi tubuh dari dinginnya hawa Kelimutu.

Ingin merasakan pendakian yang berbeda? Cobalah untuk bertandang pada bulan Agustus. Sebab, setiap tahunnya, di kawasan Taman Nasional Kelimutu ada Festival Kelimutu.

Pemda Ende didukung oleh Kementerian Pariwisata Indonesia menggelar berbagai agenda dalam festival tersebut. Perlombaan tari, karnaval budaya, hingga ritual ‘Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata’ dapat menjadi daya pikat bagi penikmat wisata budaya.

 

Mitos Danau Kelimutu

Danau Kelimutu dipercaya sebagai tempat yang sakral oleh masyarakat setempat. Arwah seseorang yang telah meninggal dipercaya akan menetap di Danau Kelimutu untuk selamanya. Sebelum tiba di salah satu danau, arwah akan menghadap Konde Ratu, penjaga pintu masuk.

Ada beberapa ritual yang dilakukan masyarakat bila berkunjung ke Danau Kelimutu. Saat tiba di gerbang masuk Taman Nasional Kelimutu, masyarakat biasa memencet klakson kendaraannya sebanyak tiga kali di pintu masuk.

Ritual tersebut dipercaya untuk menyampaikan salam kepada arwah-arwah yang ada. Jika sebelum gerbang masuk bertemu dengan orang yang berjalan kaki, masyarakat meyakini bahwa orang tersebut merupakan arwah yang baru saja meninggal.

Warna Danau Kelimutu pun memiliki arti tersendiri bagi masyarakat setempat. Jika salah satu danau terlihat berwarna merah, masyarakat percaya bahwa negara Indonesia sedang dalam bahaya.

Kalau danau berwarna biru, Indonesia sedang dalam keadaan aman. Cerita lainnya, jika danau berwarna merah, ada masyarakat yang meyakini ada warga yang baru saja meninggal.

Bahkan bagi suku Lio, perubahan warna tersebut dapat menunjukkan tanda-tanda perubahan alam yang dahsyat. Pasalnya, saat tahun 1992, Pulau Flores mengalami tsunami yang banyak menelan korban jiwa seiring dengan perubahan warna kawah menjadi merah.

Begitu pula saat terjadi tsunami di Aceh pada tahun 2004, Danau Tiwu Ata Polo berubah menjadi merah.

Foto-foto: Rizky Alika dan Ika Andriani

Share.

Leave A Reply